
Tulisan ini aku tulis, karena ayah dan ibu memintaku untuk diam dan akupun berjanji pada diriku dan untuk mereka agar menghentikan semua ucapanku. Diam, ya kata diam. Jika saja kau tidak sok sok perduli dengan yang aku lakukan tadi dan mengeluarkan kalimat bijakmu yang seakan-akan perhatian akan kesusahanku nantinya, mungkin telingamu takkan mendengar kalimat-kalimat tajam dari mulutku. Kalimat pura-pura bijakmu di depan ayah, membuat semuanya jadi nyata bahwa kau lah yang selalu mencari masalah denganku. Untuk apa kau memberitahuku nanti akan repot jadinya jika aku mengganti laptop? Biasanya pun kau tak perduli. Dan dengan alasan nantinya akan kau pakai laptop itu lagi pun sungguh tak masuk diakal, toh nantinya juga aku yang harus menelfon perusahaan jaringan internet itu. Bukan kesusahanmu dan bukan urusanmu. Dengan dalih ”berbicara baik-baik” pun hanya menjadi satu-satunya pembelaanmu. Sedangkan saat masalah diselesaikan, hanya kau yang tak bisa mengontrol emosimu. Ini adalah saran pertama kaliku untuk segeralah bercermin.
Disaat perang mulut terjadi, jalan akhir yang bisa kau tempuh hanya lah bermain fisik. Dengan dalih membela ibuku kau daratkan tanganmu di mataku bukan di pipiku, ohh sungguh perhatiannya dirimu dan betapa jantannya hal itu kau lakukan, hanya saja teramat sayang kejantananmu tak kau buktikan dengan pejantan lain dan hal itu lah yang membuatmu layaknya sebagai seorang waria. Ibuku pun berjalan memelukku, betapa sakitnya rasa itu sampai pelukannya pun tak menghilangkan rasa apa-apa. Disaat aku berkata ”tamparan itu di pipi, bukan dimata.” aku tau kau hanya ingin menyakitiku sepenuhnya bukan ingin membela ibuku. Alasan kebaikan kau gunakan sebagai kamuflase kewariaanmu. Buktinya disaat aku menanyakanmu untuk aku tampar balik didepan ayah dan ibu, kau pun mengiyakan hanya untuk menutupi kewariaanmu. Dan saat aku daratkan tanganku di pipimu, kepalamu MENGELAK! betapa wariannya kejantananmu hei makhluk tak berotak. Mengapa kepalamu mengelak? Kamu takut menerima pukulan dari seorang wanita? Sungguh memalukan, potong saja kemaluanmu. Ini adalah saran kedua kali dariku untuk bercermin.
Disaat aku menghampirimu yang sedang menceritakan kronologis kejadiannya kepada ayah, kamu memaksaku untuk duduk. Ingat-ingat ini, KAU MEMAKSAKU UNTUK DUDUK dan aku berkata tidak usah mengatur posisiku. Kau pun menaikkan suaramu agar aku duduk, agar pembicaraan dapat berlanjut pun aku menuruti maumu. Lalu saat kamu mengiyakan diriku untuk menamparmu balik, aku minta kau tetap duduk agar aku mudah menamparmu. Namun kau segera berdiri, dan menunjuk-nunjuk mukaku agar tidak usah mengatur dirimu. Terjadilah hal paling memalukan dalam hidupmu, mengelak tamparan yang telah kau beri izin aku daratkan pada pipimu. Aku pergi meninggalkanmu karna akupun sangat kecewa mengenal pria jantan yang sudah berani menampar diriku di MATA, tetapi menghindar saat ia memberiku izin untuk menampar balik dan berani mengeluarkan kalimat ”UDAH” saat sedikitpun tamparan tak kamu rasakan. Oh mungkin waria asli pun lebih jantan darimu. Saat kau mengejarku dan memintaku untuk menampar lagi, aku tau itu hanya untuk menutupi rasa malumu akan kalimat dan tindakan yang tanpa kau sadari kau tunjukkan. Aku pun menunjuk wajahmu, dan satu lagi kalimat hebat keluar dari mulut jantanmu ”GUE GASUKA DITUNJUK.” Ya Allah tak ingatkah kamu dengan perlakuanmu beberapa menit sebelumnya? Kau menunjuk mukaku sambil mengeluarkan kalimat ”GUE GASUKA LO ATUR!”
Ckckck.. mungkin kau tiba-tiba menderita short memory lost sehingga tak dapat mengingat sebelumnya pun kau melakukan itu padaku. Atau bisa saja kau terlalu waria untuk mengakui hal ini. Saran ketiga kali dariku untuk bercermin. Apakah kau butuh cermin yang lebih besar?
Ketika ayah bertanya, ”Pernahkah ayah menampar kamu?” apakah otakmu bekerja? Seharusnya otakmu bekerja dan berfikir betapa warianya tindakan jantanmu tadi.
Ketika ayah bertanya, ”Apa masalah sebenarnya?”
Pernyataanmu sungguh sangat mencerminkan dirumu yang tidak pernah berkaca diri.
Dapatkah kau lihat siapa yang tidak bisa mengontrol nada bicara?
Kita semua sama.
Bedanya aku tak pernah menuntut apa-apa darimu. Karna aku tahu aku pun begitu. Namun kau dengan segala gambaran kebijaksanaan yang ada di dirimu, menuntut banyak hal yang tanpa kau sadari kau sendiri pun seperti itu.
Seperti yang aku katakan sebelumnya kita berdua tidak akan pernah berbicara enak, terbukti bukan hari ini? Kau dengan mudahnya bermain fisik. Jadi seperti yang aku sebutkan sebelumnya kita lebih baik tidak mengenal satu sama lain daripada kita saling menyakiti. Omonganku menyakiti hatimu dan perlakuan kasarmu menyakiti tubuhku. Sekali lagi aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai kakakku. Kakakku hanya kakak perempuanku. Oh Tuhan betapa menyedihkannya dirimu. Sudah kejantananmu diragukan, pengetahuanmu pun nihil adanya. Aku turut sedih dengan hidupmu, selain membuat hariku jadi hari paling momentum tapi kau juga membuat hariku paling lucu untuk menertawakan semua ketololanmu. Terima kasih Pejantan Waria paling Gagah, kusarankan untuk membeli cermin yang besar sebelum aku menjadi orang yang tertawa paling keras dengan semua dalih-dalih kejantananmu.
Friday, 27 November 2009
Cermin besar untuk seorang pejantan waria.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment